TM2K; Aufklarung Yang Tersandera

Andai bisa dibuat news of the month, barangkali tertangkapnya Raden Nuh, pendiri akun triomacan2000, mungkin akan berada pada peringkat kedua setelah pengumuman kenaikan harga BBM.

Triomacan2000.

Siapa yang tak pernah mendengar nama itu? Bagi penduduk twitterland, akun itu ibarat garam dalam sebuah masakan. Hadirnya selalu dinanti, meski tak jarang berujung makian. Kicauannya anti-mainstream. Jika kebanyakan orang mendirikan akun di twitter sebagai tempat curhat atau ajang eksistensi diri, Macan, begitu orang sering menyebutnya, justru hadir dengan konsep aufklarung, atau bahasa sederhananya pencerahan.

Macan hadir dengan kicauan-kicauan tentang korupsi para pejabat. Terlepas bahwa kicauannya tersebut hanyalah simpul awal dari sebuah ujung bernama pemerasan, sebagaimana saat ini sedang dituduhkan pada Raden Nuh dan kawan-kawan, namun harus diakui, bahwa kicauan Macan telah membuka mata banyak orang, tentang betapa bobroknya pemerintahan dijalankan.

Jika bicara tentang sejarah, Macan bukanlah akun pertama yang didirikan untuk menguak korupsi pejabat. Sudah ada akun serupa, namun skala informasi yang diberikan masih kalah bernas dan menggegerkan dibanding Macan.

Saya pertama kali mengikuti akun Macan sejak followernya masih 25 ribu. Itupun karena salah satu kicauan Macan ditanggapi oleh Anas Urbaningrum, tokoh yang lebih dulu saya ikuti. Mulai saat itu saya dibuat terperangah oleh kicauannya. Saya masih ingat betul kicauan Macan saat itu, yakni menguak kasus Antasari Azhar.

Akun saya sendiri didirikan dengan niatan syi’ar. Dan semenjak berteman dengan Macan, banyak kicauan saya yang diretwit olehnya. Itu pula sebabnya akun saya tumbuh besar berkat free promoted dari Macan. Banyak jasa Macan dalam misi syi’ar, yang hingga hari ini belum sanggup saya bayar.

Kembali ke awal.

Sejak era reformasi bergulir, kran informasi bergerak begitu bebas, terbuka. Akan tetapi keterbukaan itu masih terasa ada batas. Batas itu adalah mulai berpihaknya media-media besar terhadap isu-isu yang diluncurkan kelompok pemilik media. Arah anginnya mudah dibaca. Jika pemilik media ‘A’ pro terhadap ‘B’, maka terus menerus berita yang mendukung pembentukan opini untuk menjustifikasi argumentasi ‘B’ dihembuskan.

Macan hadir berbeda. Dia melabrak tatanan media yang sudah dipupuk sejak era reformasi bergulir. Itu sebabnya, meski dibenci banyak orang, tapi pengikutnya terus bertambah. Sebelum di banned, akun @triomacan2000 telah difollow oleh hampir 1 juta orang. Kini pun, meski membuat akun baru, dalam sekejab, sudah difollow oleh 200-an ribu orang. Tentu ini bukan pencapaian biasa.

Kita coba bicara logika. Ketika Macan tertangkap, dapat kita saksikan di televisi, begitu banyak orang-orang yang dulu dikicaukan oleh Macan, berkomentar dengan nada kegirangan. Mungkin itu luapan kebahagiaan mereka sebagai orang yang merasa di dzalimi oleh kicauan Macan. Tapi mari kita pikir lebih dalam. Jika benar kicauan macan adalah fitnah, mengapa orang yang difitnah mau membayar agar Macan diam? Logikanya, kalau memang kicauan Macan itu adalah fitnah, cukup dengan melaporkan pada pihak kepolisian, lalu bikin konferensi pers atau kultwit dengan menunjukkan bukti aduan. Biar kepolisian yang menyelesaikan. Pertanyaannya, kenapa bisa sampai diperas? Apakah sudah tidak percaya pada kemampuan pihak kepolisian? Atau mungkin merasa bahwa kicauan Macan itu benar, sehingga melaporkan pada kepolisian, sama saja bunuh diri?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana semacam ini haruslah dijawab dengan jelas. Sebab kepolisian punya banyak waktu untuk menanyakannya pada Raden Nuh dan kawan-kawan.

Kita asah kembali kemampuan berlogika.

Jika benar tujuan Macan adalah untuk memeras, kenapa baru sekarang dia ditangkap? Sementara akun itu sudah 3 tahun lebih berdiri. Dan itu pula, dengan bersandar pada sangkaan terhadap Raden Nuh yakni pemerasan, maka sudah puluhan pejabat yang sudah dia peras. Kenapa itu tak diungkap ke publik? Siapa saja pejabat yang sudah berhasil dia peras? Jika memang pejabat tersebut berhasil diperas, kenapa dia mau diperas? Apakah karena kicauan Macan benar, sehingga pejabat tersebut mau diperas? Jika benar demikian, kepolisian punya tugas tambahan, menindak lanjuti korupsi yang dilakukan pejabat tersebut. Sebab kicauan Macan selalu berkutat pada korupsi. Maka jika pejabat tersebut mau membayar Macan agar diam, bisa dipastikan karena pejabat tersebut diungkap korupsinya. Itu adalah pertanyaan yang bersandar pada logika: B ada karena A telah tercipta.

Kembali pada Macan.

Terlepas dari sangkaan yang sedang dibebankan pada Raden Nuh dan kawan-kawan, suka tidak suka, mau tidak mau, kita harus memberi apresiasi terhadap langkah mereka mendirikan akun yang bertujuan untuk aufklarung itu. Niatan mereka sebagai akun pencerahan, saya pikir sudah terlaksana. Banyak orang-orang yang dulunya buta terhadap praktik-praktik korupsi, berikut modus operandinya, jadi tahu berkat kicauan Macan. Soal itu ditujukan sebagai pemerasan, adalah tugas kepolisian untuk membuktikannya. Sebagai orang awam, saya mengajak kepada semua pihak, untuk memberi ruang yang seluas-luasnya pada kepolisian, untuk bekerja dengan jujur dan terbuka. Jika memang Macan terbukti bersalah, hukum dia dengan seadil-adilnya. Namun jika ternyata Macan tidak bersalah sebagaimana yang disangkakan, lepaskan mereka. Biarkan mereka menjadi akun pencerah, ronin, sebagaimana semangat yang selalu mereka suarakan.

Sekian.

tulisan terbit di media Jabarbersatu.com – http://jabarbersatu.com/tm2k-aufklarung-yang-tersandera/

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

ATAS NAMA RAKYAT

Dua minggu terakhir ini kita disuguhi sebuah drama politik yang di presentasikan oleh para legislator di DPR-RI. Drama itu berjudul RUU Pilkada. Tidak ada yang salah dari pilkada itu secara pelaksanaan, sebab itu merupakan produk reformasi, hanya saja tata cara pelaksanaannya yang bikin tensi politik meninggi. Adalah dua opsi skema tata laksana pilkada yang diperdebatkan dengan keras, yaitu pilkada langsung (dipilih oleh rakyat) dan pilkada tidak langsung (dipilih oleh DPRD). Argumentasi kedua kubu sama-sama mengusung demokrasi dan mengklaim paling konstitusional. Di satu sisi pilkada langsung, diklaim, sebagai bentuk demokrasi yang paling demokratis. Tetapi disisi yang lain konstitusi kita menyebutkan bahwa demokrasi yang kita anut adalah demokrasi perwakilan, artinya, pemilihan pemimpin merupakan hasil permusyawaratan perwakilan.

Masyarakat awam dibuat terfokus pada perdebatan ini. Terbukti, dari penjual koran hingga abang becak pun ikut urun pendapat tentang hal ini, tentu sebatas pemahaman yang mereka miliki. Seolah-olah perdebatan ini telah masuk begitu jauh dan menjadi hiburan bagi masyarakat yang penat dengan tantangan hidup yang kian berat akibat tak stabilnya perekonomian bangsa. Sungguh, tontonan drama pilkada ini mampu membuat rakyat sejenak melupakan beban di pundaknya.

Bila ditelisik lebih jauh, keluar dari kotak, sejatinya drama pilkada ini adalah seri kedua dari kisah pilpres yang lalu. Seakan-akan lakon ini menjadi sekuel, yaitu Pilpres, UU MD3 dan yang terbaru adalah UU Pilkada. Jika melihat dari tajamnya perbedaan yang ada, UU Pilkada bukanlah serial terakhir dari sekuel tadi, masih terbuka kemungkinan untuk membuat serial-serial lainnya.

Saga pro dan kontra ini sebenarnya berjalan seru, menarik dan mencerdaskan, sebab masing-masing kelompok mengeluarkan argumentasi yang kuat untuk menjelaskan standing positionnya. Tapi kemudian hal itu menjadi tidak menarik lagi untuk diikuti manakala ada sekelompok orang yang menggugat hasil politik di DPR tersebut ke Mahkamah Konstitusi. Tidak masalah mereka menggugat, itu adalah hak konstitusional, sejauh itu tidak mengatas namakan rakyat. Yang menjadikan polemik mengenai UU Pilkada ini menjadi tontonan yang tidak lagi sehat bagi masyarakat adalah media yang pro pilkada langsung mulai menurunkan berita dengan tajuk yang berkonten provokasi. Ialah penggunaan bahasa-bahasa yang bisa memicu konfrontasi ditingkat bawah. Sebutlah penggunaan kalimat ‘pengebirian hak rakyat’, ‘pembungkaman’, ‘kemunduran demokrasi’ dsb. Dan itu diperkuat oleh argumentasi dari pihak ketiga, alias kelompok-kelompok yang sesungguhnya tak terlibat langsung dalam proses pembahasan di DPR, mereka hanya penggembira yang ingin memancing di air keruh dengan mengatas namakan rakyat.

Mari kita lihat perdebatan antara pro dan kontra mengenai UU Pilkada ini sebagai hal yang wajar dalam sebuah proses politik. Jika kita over reaktif atas persoalan diatas, padahal masih terbuka kemungkinan adanya ruang-ruang perdebatan baru yang mungkin lebih besar dari itu, maka akan jadi apa bangsa ini nantinya? Janganlah selalu membawa nama rakyat saat akan menggugat. Ingat, rakyat yang dibajak namanya itu belum tentu sepakat dengan apa yang diperjuangkan lewat Mahkamah Konstitusi. Jika demikian adanya, rakyat yang mana yang sedang mereka perjuangkan?

Kembali ke persoalan UU Pilkada. Ada hal menarik yang kiranya patut untuk saya tuangkan dalam tulisan ini, yaitu SBY dan Partai Demokrat. Adalah sikap yang mereka sebut sebagai ‘penyeimbang’. SBY, yang dikenal sebagai ahli strategi dan pencitraan, tentu telah memperhitungkan dengan cermat perihal strategi dan taktik tersebut. Akan tetapi dengan sikap nyentrik itu, SBY dan Demokrat justru menjadi sasaran tembak dari dua kubu yang sedang berseteru, Koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah Putih. Perhatikan saja seminggu lalu, SBY menjadi bahan cemoohan penduduk twitter yang menggelar hashtag #shameonyouSBY. Itu digeber sebab mereka kecewa berat atas aksi walkout Partai Demokrat dari sidang paripurna RUU Pilkada. Kronologisnya, beberapa waktu sebelum paripurna, SBY tiba-tiba saja mendukung pilkada langsung, tapi dengan 10 perbaikan. Pada saat hari H, ternyata Demokrat ‘WO’ yang mengakibatkan KIH kalah telak dari KMP. Tentu saja pro jokowi di parlemen meradang atas aksi Demokrat ini dan menyalahkan SBY yang mereka tuduh sedang bersandiwara. Maklum, setiap kali ada masalah genting yang melibatkan SBY, dia selalu berada di luar negeri. Hal ini seolah menjadi sebuah alibi bagi SBY. Saat mendorong KPK men-tersangka-kan Anas, misalnya. SBY sedang di Luar Negeri, dan masih banyak contoh kasus yang lain.

Singkat cerita, politik ‘penyeimbang’ SBY dan Demokrat ini boleh dibilang gagal total. Alih-alih menjadi ‘ayam jago’ yang siap bermain cantik, SBY dan Demokrat justru dipandang buruk di akhir periode kekuasaannya. Langkah WO Demokrat itu seolah mengkonfirmasi keberadaan PD bersama barisan KMP.

Dan dari rangkaian itu semua, ternyata masih ada yang terburuk dari langkah SBY, yaitu rencananya mengeluarkan perppu (peraturan pemerintah pengganti undang-undang) untuk mematahkan argumentasi publik bahwa kubu SBY bergabung dengan KMP. Apakah langkah ini cukup efektif untuk meredam persepsi publik yang terlanjur menempatkan SBY sebagai ‘common enemy’? Entahlah. Menebak arah angin politik tentu tak mudah. Tapi melihat dari masih bekunya komunikasi antara Megawati dan SBY, langkah apapun yang diambil SBY takkan berpengaruh banyak. Sebab belum jelasnya posisi politik SBY lebih disebabkan luka lama antara dirinya dan Megawati. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Jokowi hanyalah ‘petugas partai’, dimana dia nantinya hanya akan menjalankan apa yang telah disiapkan oleh partainya, PDIP. Dan yang menjadi tokoh sentral dari partai berlogo banteng itu adalah Megawati, yang tak lain seteru SBY. Selama Mega dan SBY belum akur, selama itu pula Jokowi akan mendapat kesulitan saat bersinggungan dengan parlemen nantinya. Sikap Demokrat yang tak jelas itu boleh dibilang sedang merayu PDIP, tapi dengan cara yang congkak. Malu tapi mau. Ketika Mega bersedia bertemu dengan SBY, bisa dipastikan PD akan berada dalam barisan pendukung Jokowi. Tak akan ada lagi istilah ‘penyeimbang’ dalam kamus politik PD di parlemen.

Apapun yang terjadi nanti, semogalah Indonesia tidak terlalu lama tersandera oleh drama politik saling tikam seperti ini. Terlebih semua mengatasnamakan rakyat. Rakyat yang sudah letih menyaksikan wakilnya yang tak kunjung dewasa.

Sekian.

terbit di asatunews.com 3/10/14 http://www.asatunews.com/kolom/2014/10/03/atas-nama-rakyat-rakyat-yang-letih

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

SAMUEL SMILES

Indonesia adalah negara besar dan berdaulat. Sudah beberapa kali sejak menyatakan diri merdeka Indonesia melakukan perubahan dan pergantian sistem ekonomi. Dari sistem ekonomi sosialis hingga ekonomi kerakyatan. Pada hakekatnya semua sistem yang ditawarkan itu bertujuan untuk mencapai kesejahteraan rakyat. Akan tetapi entah mengapa hingga menginjak usia 69 tahun, apa yang dicita-citakan oleh para founding father itu belum juga terealisasi. Kemiskinan masih menjadi ‘momok’ yang menakutkan bagi tiap pemerintahan yang berganti setiap 5 tahunan.

Berbicara mengenai ekonomi, tentu tak bisa lepas dari UKM (usaha kecil menengah). Kita tentu ingat betapa dahsyat krisis ekonomi menghantam negara ini di tahun 98 silam. Bahkan efeknya masih kita rasakan hingga hari ini. Kita belum sepenuhnya bangkit. Tapi UKM, selain koperasi, merupakan pilar ekonomi yang paling bertahan. UKM terus bergeliat meski kondisi ekonomi negara diambang runtuh. Saat perusahaan besar ramai-ramai tutup, pemiliknya melarikan modal ke luar negeri, UKM, yang merupakan milik orang-orang pribumi, justru bertahan dan terus menyerap tenaga kerja. Itu sekedar review keadaan 16 tahun silam.

Hari ini, UKM tetap menjadi primadona ekonomi negara. Perhatian dari pemerintah terhadap sektor ini pun luar biasa. Banyak program ditawarkan, yang paling populer adalah kredit usaha rakyat alias KUR. Bahkan pemerintahan Presiden SBY membuat satu kementrian baru untuk memacu pertumbuhan sektor ekonomi kreatif, bahasa lain untuk UKM, yaitu Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Sungguh perhatian yang cukup besar.

Akan tetapi sudahkah program-program tersebut benar-benar dinikmati oleh pelaku UKM?

Inilah yang harus diperhatikan. Sudah bukan rahasia bila belum semua pelaku UKM merasakan ‘kue’ bernama KUR tersebut. Pelaku UKM selama ini lebih cenderung untuk mencari kredit pada bank-bank kecil alias BPR. Sebab dengan kebutuhan modal yang relatif kecil, sulit bagi bank-bank besar untuk mengucurkan kredit pada plafond-plafond kecil (<50juta). Hal inilah yang menyebabkan hingga memasuki tahun ke 7 pencanangannya belum menumbuhkan respons yang menggembirakan.

Seperti kita ketahui bersama, plafond minimum untuk pinjaman KUR adalah 5 juta rupiah. Sementara bank-bank yang ditunjuk pemerintah sebagai penyalur KUR adalah bank besar yang terbiasa menyalurkan kredit modal usaha diatas 100 juta. Secara sistem, memang bank-bank besar banyak diuntungkan, sebab kredit yang disalurkan di proteksi oleh asuransi kredit. Pun sebanyak 70% dari total agunan ditanggung pemerintah. Tapi tetap saja pihak bank seperti enggan untuk mengucurkan kredit-kredit kecil. Pada akhirnya, KUR dinikmati oleh kalangan usaha menengah yang berani mengajukan utang diatas 100 juta rupiah. Bagaimana dengan UKM? Mereka tetap lari ke BPR atau Koperasi yang notabene berbunga besar. Tak jarang pula para pelaku UKM terjerat ulah lintah darat yang menerapkan suku bunga luar biasa besar.

Itulah kata yang paling pas untuk menggambarkan situasi ekonomi di mata pelaku UKM. Ditengah iklan tentang KUR yang bombastis itu, ternyata tak semuanya dapat dinikmati. Memang ada beberapa pelaku UKM yang sudah merasakan, tapi itu hanya segelintir, dan hanya melalui bank besar yang kebetulan memiliki unit mikro saja. Itupun dengan persyaratan yang hampir-hampir mustahil untuk dapat dipenuhi oleh pelaku UKM secara keseluruhan. Mengapa? Sebab banyak pelaku UKM yang tak memiliki perijinan untuk usahanya. Padahal itu adalah syarat mutlak bagi pelaku UKM untuk mendapat kucuran KUR.

Solusi terbaik yang mungkin bisa dilakukan pemerintah untuk mengevaluasi KUR, jika tujuannya sebagaimana tertuang dalam website TNP2K, yaitu program yang termasuk dalam Kelompok Program Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Pemberdayaan Usaha Ekonomi Mikro dan Kecil, maka skema penyalurannya harus dievaluasi total. Bank-bank besar yang sudah ditunjuk sebagai penyalur kredit harus diwajibkan untuk membentuk unit mikro dengan berbasis ketentuan KUR. Sebab banyak bank-bank besar yang memiliki unit mikro akan tetapi perlakuan suku bunganya menginduk pada BPR alias berbunga tinggi. Ini yang harus dirubah.

Ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang berkebalikan dari sistem ekonomi liberal ataupun sosialis. Sistem ini merupakan bauran dari sistem ekonomi yang berdasar Pancasila dengan sistem ekonomi yang sudah ada. Artinya, tak boleh instrumen pemerintah hanya memandang dari segi keuntungan belaka dalam menjalankan roda usahanya. Termasuk bank-bank penyalur KUR haruslah mengikuti sistem ekonomi yang berlaku ini dengan membuka akses yang seluas-luasnya bagi pelaku UKM untuk mendapat bantuan modal melalui skema KUR ini.

Kita coba lakukan hitung-hitungan kasar terhadap lapangan pekerjaan yang bisa dibuka oleh pelaku UKM. Jika setiap UKM mampu menyerap 5 tenaga kerja. Kemudian sebagaimana pernah disampaikan oleh begawan ekonomi kita Ir Ciputra, bahwa negara maju haruslah memiliki 10% dari total penduduknya adalah pelaku UKM, maka Indonesia haruslah memiliki 21 juta pelaku UKM. Bila dikalikan dengan kemampuan menyerap tenaga kerja, maka akan tercipta 105 juta lapangan pekerjaan di Indonesia. Itu artinya mustahil ada pengangguran di negeri tercinta ini. Semua akan terserap. Dengan kata lain pengentasan kemiskinan menjadi hal yang mudah untuk dilakukan.

Apakah itu mungkin?

Mengutip perkataan Samuel Smiles, seorang tokoh asal Scotlandia: ‘If there is a will, there is a way’. Tidak ada yang mustahil di dunia ini, selama ada kemauan untuk mewujudkannya. Singapura dan Jepang adalah bukti tak terbantahkan mengenai kemakmuran penduduknya. Juga China yang menggeliat sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia lewat pertumbuhan UKM-nya yang luar biasa.

Jika mereka bisa, mengapa kita tidak??

Selamat hari kemerdekaan Indonesia.

tulisan terbit di majalah Planner edisi Juli 2014

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

dalil-dalil kebenaran

kebenaran adalah kebenaran

ia bukanlah kaki-kaki dalam pasungan

kebenaran akan terus merayak diantara sela dinding peradaban

jangan sekali-kali kau coba untuk membungkam

jangan..

sekuat apapun jari jemarimu mencengeram

sekuat itu pula ia akan bergerak melawan

 

cakar-cakar tajam menghujam

tak sedikitpun itu membuatnya terdiam

kebenaran..

ia akan mengalir bersama keadilan

menggugah jiwa-jiwa yang tenang

untuk berontak menemukan jalan

 

kau yang sedang duduk dalam kenyamanan

dan tangan-tangan yang kau pakai untuk membungkam

perhatikan!

saat layar-layar mulai terkembang

dan kembang api telah dinyalakan

saat itulah pembalasan untukmu dijalankan

atas sayatan-sayatan yang telah kau goreskan

atas pedih-pedih yang telah kau tuangkan

semua telah tercatat dan menyeringai dalam perhitungan

 

 

dini hari di kota probolinggo, 13 agustus 2014

 

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

wanita bergelar ibu

jika sebuah pertanyaan datang pada saya, lalu bertanya tentang siapa orang yang mengantarkan saya hingga ke titik saat ini, maka dengan tegas dan lugas, saya akan menjawab: ‘ibu’.

 

entah apa jadinya saya andai tak memiliki sosok ibu, terlebih ibu yang sangat sabar dan perhatian pada anaknya yang bengal dan jahil seperti saya. sejak kecil, bahkan mungkin sejak lahir, saya sudah merepotkan dan mengurangi waktu istirahat beliau dengan tangisan saya. lalu agak besar sedikit, saya kuras kesabaran beliau dengan kejahilan saya. terus menerus saya berulah dan berulah, menghabiskan segenap waktu yang beliau miliki. tapi beliau tetap sabar, sabar dan sabar menghadapi kenakalan saya.

 

bahkan ketika saya terjatuh dan terperosok dalam bisnis hingga nyaris bangkrut, ibu tetap hadir dengan ketabahannya yang menjadi sandaran jiwa saya. perlahan saya bisa bangkit dan berjalan kembali, berkat dukungan dari beliau. saya selalu menjadi prioritas dalam hidup beliau. itu yang membuat saya merasa nyaman dan tenang. saya selalu merasa ada bahu untuk saya bersandar.

 

sejenak saya melihat sekeliling. saya baca.

 

ya Allah, betapa banyak ibu yang menjadikan anak-anaknya sebagai nomor dua. kekerasan pada anak begitu marak. ibu-ibu yang sibuk dengan dunia kerjanya, sibuk dengan urusan pribadinya, sibuk dengan eksistensinya. sementara anak dibiarkan melalui masa kanak-kanaknya dengan pembantu, atau di tempat penitipan anak, atau kalau pun ibu di rumah, mereka mendapat perlakuan kasar karena mungkin ibunya sedang lelah dengan kondisi dan himpitan ekonomi.

 

seketika itu bathin saya bersujud pada Allah.

 

saya merasa menjadi manusia paling beruntung di muka bumi ini. entah apa jadinya saya, bila tertakdirkan memiliki ibu yang tak pernah menomorsatukan saya. membayangkan pun saya takut.

 

dua minggu lalu, saya dibuat takut setengah mati oleh kabar dari ibu. beliau didiagnosa oleh dokter ada tumor di payudara beliau.

 

GUSTI…

 

bathin saya lunglai. tubuh saya lemas. hati saya berkata: ‘apa lagi ini, GUSTI?’

 

terus terang, menjelang Ramadhan ini begitu banyak persoalan menghampiri. semua seolah datang bersamaan dan menghantam bertubi-tubi. puncaknya adalah berita tentang sakitnya ibu.

 

untuk pertama kalinya saya merasa kalut dan nyaris tak bisa berpikir dengan baik. saat usaha saya ditipu orang hingga nyaris bangkrut, saya masih bisa tersenyum bila bertemu orang. tapi kali ini tidak. saya hanya bisa menangis tanpa tahu harus berbuat apa. pikiran saya sudah kemana-mana. jujur, saya takut kehilangan beliau.

 

dokter bilang ibu harus operasi. itu untuk mengangkat tumor jinak yang ada di tubuh beliau.

 

saya tidak tahu apa itu tumor jinak, apa itu tumor ganas, yang saya tahu penyakit itu ada di tubuh ibu.

 

segera saya menghubungi teman-teman untuk membantu saya menyiapkan sebuah kamar di rumah sakit. saya ingin semua yang terbaik untuk ibu. dimanapun. berapapun. saya tidak peduli.

 

ditengah kekalutan saya itu, saya duduk sejenak diatas kap mobil. saya pandangi langit malam. saya bukan orang yang suci seperti Nabi, sehingga do’a apapun pasti diterima Allah. tapi saya dengan tulus menemui Allah, dan meminta DIA untuk sembuhkan ibu. saya ingin ibu terus menemani saya dan selalu ada untuk saya, sebagaimana sewaktu saya masih kecil dulu. bahkan dunia yang Allah titipkan pada saya saat ini ditukar untuk kesembuhan ibu pun saya mau.

 

ajaib!

 

tak lama kemudian handphone saya berdering.

 

‘kata dokter, ibu sehat. ibu ndak usah operasi, le..

 

setengah tak percaya, saya terbengong tak bisa bicara mendengar suara ibu. secepat itu Allah kabulkan doa saya.

 

Maha Berkuasa Allah atas hidup kita.

 

di kesempatan yang baik ini, ditengah putaran akhir dari bulan suci ini, saya ingin mengajak pembaca yang budiman untuk menundukkan kepala seraya berdoa untuk ibu kita. beliau adalah pelita kita. tanpa kasih sayang dan perhatian yang besar beliau pada kita saat masih kecil, entah apa jadinya kita hari ini. seluruh sisa hidup ini kita serahkan pun, tak akan pernah cukup untuk membayar segala kebaikan yang telah ibu kita berikan. percayalah!

 

juga teruntuk kaum wanita yang telah bergelar ibu, perhatikanlah anak-anakmu. jangan lagi kau nomor duakan anak-anakmu. jangan lagi ada kekerasan darimu pada anak-anakmu. ketahuilah, kau, diberi kepercayaan Allah untuk menjadi ibu, adalah sebuah karunia yang tiada ternilai harganya.

 

perhatikan! betapa banyak wanita sepertimu, yang tiap malam menangis dan memohon pada Allah agar diberi kepercayaan untuk mempunyai keturunan, tetapi hingga kini belum kesampaian. renungkan itu!

 

billahittaufiq wal hidayah.

 

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Kesedihan Mendalam atas Surat Sang Rohaniawan

بسم الله الرحمن الرحيم

Siang ini, sekira pukul 11 WIB, saya mempunyai waktu luang untuk berselancar di internet. seperti biasa, twitter, menjadi jujugan pertama saya. Begitu membuka akun saya (@robethfuad), lagi-lagi seperti biasa, tab mention saya dipenuhi berbagai kicauan dari sahabat follower. Dari sahabat yang mengkritik, hingga sahabat yang meluncurkan sederet kata makian, semua saya terima dengan senyuman. Mereka semua saya anggap sahabat. Hanya saja, saat ini, saat pilpres ini, sedang berbeda tempat berdiri dengan saya. itu saja.

Dari salah satu mention yang masuk itu, ada yang menyisipkan sebuah link yang bertaut pada sebuah blog yang mengunggah surat terbuka Romo Magnis. Bagi yang belum tahu, Romo Magnis adalah sosok rohaniawan terkemuka. Beliau adalah sosok yang saya kagumi, sebab beliau adalah sahabat almarhum Gus Dur. Romo Magnis, sebagaimana Gus Dur, adalah tokoh yang sangat menghargai kemajemukan, keragaman. Tentu tulisan-tulisan beliau berasa teduh dan menentramkan bila dibaca.

Akan tetapi, kenyataan yang saya dapati ketika membaca surat Romo Magnis ini – surat terbuka romo magnis – saya terkejut. Penulis buku ‘Etika Politik’ tersebut seolah jauh dari kesan seorang pluralis yang menghargai keragaman. Pastur yang dikenal dekat dengan semua orang tanpa pandang bulu ini ternyata sanggup menuliskan kalimat keras seperti; penculik dan penyiksa, Islam garis keras, dan pesimisme berlebih seperti menganggap Prabowo akan tersandera oleh ‘jasa’ dari kelompok pendukung yang beiau anggap ‘Islam garis keras’ tadi.

Lebih jauh, Direktur Pascasarjana Sekolah Tinggi Ilmu Filsafat Driyarkara ini menyinggung soal manifesto politik Partai Gerindra soal pemurnian agama. Teks yang berbunyi “Negara dituntut untuk menjamin kemurnian ajaran agama yang diakui dari segala bentuk penistaan dan penyelewengan dari ajaran agama” dianggap beliau sebagai ancaman terhadap keberagaman dengan menyelipkan kata ‘gawat’ dalam kalimat di salah satu alinea.

Mulai muncul pertanyaan dalam hati saya: ‘benarkah ini tulisan Romo Magnis? ataukah memang ini sejatinya beliau?’

Kita coba bedah satu persatu isi surat beliau.

Pertama: sebagai seorang muslim, saya tentu bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang dimaksud oleh Romo tentang ‘Islam garis keras’ yang ada dibalik Prabowo?. Dengan memunculkan frasa ‘Islam garis keras’, Romo sudah terjebak kedalam sebuah pengkotak-kotakan, bertolak belakang dengan semangat pluralisme. Di alinea ke 5, Romo menentang manifesto perjuangan Gerindra yang mengedepankan semangat pemurnian agama, tapi di alinea ke 3 Romo justru memasang garis batas dengan menulis kalimat ‘Islam garis keras’ tanpa merinci siapa yang dimaksud. Dengan segala maaf, bila memang Romo berkeinginan agar Prabowo dan Gerindra menghapus manifesto perjuangan yang menyangkut pemurnian agama, dengan tujuan agar aliran-aliran yang oleh sebagian orang dianggap menyimpang, bisa hidup di Indonesia, mengapa kelompok yang oleh Romo Magnis katakan ‘Islam garis keras’ tadi tak boleh hidup?. Sayang, sekali lagi saya tuliskan, Romo tak menjelaskan lebih lanjut tentang siapa yang beliau maksud dengan ‘Islam garis keras’. Lagipula, mengapa Romo harus khawatir dengan bunyi manifesto tersebut? Apakah Romo sedang bermaksud ingin melindungi para penista agama? Semoga tidak demikian adanya.

Kedua: pada alinea ke 4, Romo mengemukakan pesimisme, bahkan ketakutan berlebih, dengan menyatakan bahwa Prabowo akan tersandera oleh dukungan garis keras. Dan saya tersentak ketika Romo menuliskan PKS, PPP dan FPI dimana pada alinea selanjutnya menuliskan ‘garis keras’. apakah ketiganya adalah kelompok garis keras?. Sebagai seorang penulis, saya tentu harus bersikap skeptis. Saya tak hendak membela PKS, PPP dan FPI, juga tak hendak membenarkan tulisan Romo, saya hanya ingin mendudukkan semuanya pada tempatnya. Kita coba merefresh ingatan, dengan tujuan untuk mencari tahu, apakah benar PKS dan FPI adalah garis keras sebagaimana yang Romo tuduhkan. Berikut saya sampaikan beberapa link berita dari media nasional:

  1. FPI ikut aktif bantu korban banjir / arsip detiknews – (FPI ikut aktif bantu korban banjir)
  2. PKS kerahkan 467 relawan bantu korban gempa Sumbar / arsip tvOneNews – (PKS kerahkan 467 relawan bantu korban gempa Sumbar)
  3. Ulama dan pengurus PPP gelar doa untuk korban kelud / arsip aktual.co (Ulama dan pengurus PPP doa untuk korban kelud)

Itu beberapa link berita yang mungkin bisa Romo baca, meski mungkin tiada guna, sebab Romo terlanjur menyematkan istilah ‘garis keras’ pada ketiga organisasi tersebut dalam surat yang Romo buat.

Ketiga: saya bertanya-tanya tentang kalimat ‘penyiksaan dan penculikan aktivis’ yang tentu saja kalimat ini Romo tujukan pada Prabowo, sebab memang isu tersebut yang kerap menghantam beliau. Pada saat Romo menulis kalimat itu, apakah Romo sudah memiliki data yang akurat mengenai hal tersebut? Hanya mengingatkan, Romo. Jangan sampai tulisan Romo yang sebenarnya berniat mencerahkan, tapi justru berujung fitnah. Ingat, anda adalah tokoh Rohaniawan. Tentu setiap ucapan anda adalah titah bagi makmum anda. Marilah kita bersama ciptakan pemilu yang damai. Bagus menyatakan pendapat dan memberitahu khalayak perihal tempat kita berdiri. Akan tetapi bila itu disertai dengan hal-hal mendekati fitnah, lebih baik ditinggalkan saja.

Saya tak berharap tulisan saya ini Romo baca, sebab mustahil juga bila tulisan dari seorang yang bukan siapa-siapa, hanya kesedihan dari seorang pengagum pada seorang sahabat dari sosok yang saya kagumi, atas tulisan yang dibuatnya, mendapat tempat dan waktu diruang baca Romo. Tapi setidaknya tulisan ini menjadi selayang pandang, bukan pembanding, apalagi penggugat, dari tulisan Romo yang bijaksana. Untuk itu saya mohon maaf bila tulisan saya dipandang kurang berkenan dan terkesan lancang. Kesempurnaan hanya milik ALLAH, dan kekurangan sepenuhnya adalah milik saya sebagai manusia.

Sekian.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

PABRIK IJAZAH

Bekal dalam hidup yang paling hakiki adalah ilmu pengetahuan. Adalah mustahil bagi seseorang yang ingin sukses, akan tetapi tidak memiliki ilmu pengetahuan dalam dirinya. Ilmu dan pengetahuan, merupakan dua sisi mata uang yang tak mungkin terpisahkan. Berilmu saja, tanpa berpengetahuan, adalah hampa. Berpengetahuan, tanpa berilmu, adalah musykil. Maka ilmu dan pengetahuan, haruslah dimiliki dalam hidup ini demi sebuah kesejatian hidup.

Sekolah, secara umum, dianggap sebagai tempat untuk menimba ilmu. Di sekolah, kita belajar akan banyak hal. Perspektif yang ada, sekolah adalah ‘kawah candradimuka’ bagi siswa-siswi yang ingin menempa diri untuk memperoleh ilmu pengetahuan, bekal hidupnya.

Akan tetapi fakta berbicara lain.

Sejak dahulu, hingga sekarang, sekolah tak lebih merupakan pabrik ijazah!

Coba kita berpikir secara jujur. Benarkah ilmu dan pengetahuan yang kita dapatkan dari sekolah selama ini? Ataukah yang kita kejar selama ini hanya secarik ijazah?

Mari kita urai satu demi satu makna dan tujuan dari sekolah dalam konteks ilmu dan pengetahuan.

Pemerintah pusat setiap tahun merubah garis besar haluan pendidikan, atau sebutlah semacam itu, dengan tujuan mencari formulasi terbaik untuk meningkatkan pelajar dalam mencapai grade kelulusan yang telah ditetapkan. Pemerintah menetapkan standar kelulusan yang terus naik. Disamping itu pemerintah pula menetapkan formasi ujian nasional, yang awalnya hanya 2 paket, menjadi 5 paket soal. Tujuannya? Untuk mengurangi kecurangan.

Ok. Sampai disini, tujuan yang ditetapkan oleh pemerintah terlihat bagus. Tapi coba tanyakan pada peserta didik yang menjalani.

Banyak diantara mereka yang merasa berat, stres dan shock pada saat menjelang maupun pasca ujian. Bagaimana dengan kebocoran soal yang telah ditanggulangi dengan pembuatan 5 paket soal? Hasilnya nol besar. Tetap saja para joki masih dengan bebas bergerilya memberikan bocoran jawaban bagi para siswa.

Inikah model sekolah yang dianggap sebagai tempat menimba ilmu dan pengetahuan?

Ataukah sekolah memang hanya sebuah pabrik ijazah yang di ‘branding’ sebagai tempat menimba ilmu?

Logika sederhana: jika memang sekolah memang merupakan tempat menimba ilmu dan pengetahuan, lalu mengapa para siswa merasa tertekan dengan sistem yang ada, hingga berusaha mencari contekan agar segera mendapat ijazah?

Ilmu dan pengetahuan yang diraih seseorang tidaklah bisa diukur melalui deretan angka dan aksara yang tertera di ijazah. Bila ijazah menjadi tolok ukur keberhasilan seseorang dalam meraih satu tingkatan ilmu pengetahuan, maka tak heran bila yang terjadi adalah berkebalikan, mereka yang bersungguh meraih ilmu pengetahuan tanpa contekan, justru mendapat nilai yang jeblok bahkan tak lulus. Dan mereka yang hanya mengejar ijazah mendapat nilai yang ‘wah’.

Menteri pendidikan kita adalah seorang profesor. Bukan orang sembarangan. Akan tetapi dia pun akhirnya hanya bisa melestarikan stigma sekolah sebagai pabrik ijazah. Ia tak mampu membuat sistem baru yang lebih memfokuskan sekolah sebagai tempat menimba ilmu.

Akibat dari semua itu, tidak mengherankan bila output dari sekolah, tidaklah banyak yang berkualitas. Kadang malah kualitasnya buruk. Tidak hanya dari segi ilmu dan pengetahuan yang dimiliki, tapi juga kompetensi dan attitude lulusan sekolah rata-rata sangat jeblok.

Efek selanjutnya adalah para lulusan itu tak mampu bersaing dalam dunia kerja, tak memiliki endurance dalam menghadapi tantangan pekerjaan, dan mudah sekali dipatahkan logikanya. Maka muara dari semua itu adalah makin membumbung tingginya para pengangguran.

Tidak mengherankan bila setiap kali tiba masa wisuda atau kelulusan, disamping euforia berlebihan, layak kiranya bila disematkan sebuah baliho besar di pintu keluar sekolah yang bertuliskan: ‘SELAMAT DATANG PENGANGGURAN BARU’.

sekian.

(terbit di asatunews 17-06-2014)

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized